Heart of Java Adventure Part 3 – Pulang (ke) Jogja


Setelah puas mengisi perut dan menginap di Pare, jam 6 sore kami berangkat dari penginapan (setelah sebelumnya mengambil motor Yoga yang turun mesin dalam waktu 12 jam saja). Rute yang kami malam ini adalah Pare – Kediri – Ngawi – Sragen – Surakarta – Jogja.
Sempat mampir untuk foto-foto sebentar di monumen Simpang Lima Kediri, yang bentuknya mirip sekali dengan Arc de Triomphe, di Paris, Perancis cuma ukurannya yang lebih kecil. Taman yang tertata rapi, dan cahaya lampunya yang benderang mampu memukau mata saya yang haus pemandangan indah ini.

Arc de Triomphe a la Kediri di malam hari
Arc de Triomphe a la Kediri di malam hari

Oh ya, di Kediri ada pabrik rokok yang sangat besar, PT Gudang Garam, nah pusatnya ada di Kediri, terbayang berapa banyak rokok yang diproduksi(dan dikonsumsi tentunya). Rokok, walaupun banyak yang bilang  merugikan kesehatan, nyatanya menjadi sumber penghidupan banyak orang, masalah dilematis di Indonesia

Selain itu ada jembatan yang panjang sekali, melintasi Kali Brantas, jembatan ini sudah dibangun pada abad ke-18 dan masih berfungsi baik hingga kini, ditambah aksen cahaya lampu di sekitar jembatan, membuatnya terlihat memikat.

Setelah puas berfoto, perjalanan langsung dilanjutkan ke arah Ngawi via Nganjuk, namun kami sempat tersasar(lebih tepatnya berputar-putar) di sekitar pusat kota Nganjuk, karena hanya mengandalkan membaca GPS(tidak menggunakan routing), dan kebetulan Wido yang membaca, sepertinya sedang tidak konsentrasi😛

Lanjut, setelah menemukan jalan yang sebenarnya, langsung diarahkan menuju Ngawi, malam hari di Alas Saradan perjalanan kami hanya ditemani truk-truk besar. Aspal yang halus, membuat kami bisa memacu dengan stabil motor-motor kami, termasuk Yoga dengan mesin motor barunya. Sepertinya ritme perjalanan kami sudah serasi, salip menyalip truk menjadi lancar dan mantap.

Tidak terasa, 4 jam sudah mesin menyala, dan kami masih tetap segar, sehingga rencana istirahat di Ngawi dibatalkan, mungkin ini akibat istirahat kami yang cukup panjang di Pare, hehehe:mrgreen:. dan pada tengah malam, kami telah mencapai Mantingan, wilayah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, kira-kira 150 Km dari titik kami berangkat. Di SPBU dekat gapura perbatasan, kami beristirahat, membuka bekal yang dibawa dari Pare, nasi, ayam goreng, dan masakan sayur cukup mengenyangkan di malam hari.

Dan, perjalanan dilanjutkan setelah beristirahat sekitar 1 jam, petunjuk jalan yang lengkap memudahkan perjalanan kami ke arah Jogjakarta, walaupun sempat menerka-nerka di sekitar Sragen. Perjalanan malam berlangsung lancar, hanya saja sempat merasakan ganasnya lubang besar di sekitar Lapangan Udara Adisucipto, karena sudah malam dan kurang awas. Sampai di Klaten sekitar jam 1 pagi, kami beristirahat di minimarket 24 jam, merenggangkan badan yang pegal terhempas angin malam.

Istirahat, tak lupa bercanda ringan
Istirahat, tak lupa bercanda ringan

Setelah 1 jam beristirahat, kami beranjak ke arah Jogjakarta(ini salah satu mimpi saya sejak kecil, bisa naik motor ke tempat nenek..hehe), jalan yang lancar membuat perjalanan sekira dua jam saja, kami sudah menyentuh tapal batas Jawa Tengah – Jogjakarta, dan karena ngantuk sudah tidak bisa ditahan, kita memutuskan istirahat di masjid seberang candi Prambanan.
Masjid ini sepi, bersih, dan luas, cocok untuk pengelana ekonomis yang membutuhkan tempat untuk sekedar meluruskan badan😀. Langsung saja kami menggelar perlengkapan tidur di selasar masjid, setelah sebelumnya meminta izin pada penjaga masjid untuk menumpang tidur. Sarung, Jaket, dan Tas menjadi perlengkapan untuk melawan dinginnya lantai masjid. Pulas kami semua tidur, hingga akhirnya pada jam 4 pagi(baru memulai tiga jam tidur), ada suara perempuan, banyak sekali, serombongan anak SMA masuk masjid, dan langsung melakukan ritual yang sama dengan kami, tidur di lantai. Marif yang tampaknya terganggu, juga saya dan Yoga ikut terbangun. berusaha bergeser tempat tidur, agar tidak terlalu dekat dengan anak-anak SMA itu, maklum mereka perempuan, dan tidurnya sembarangan, dan kami risih juga, nanti bisa-bisa terjadi hal yang diinginkan tidak diinginkan:mrgreen:.

Setelah melanjutkan tidur, paginya kami baru tahu, bertanya pada salah satu anak SMA, ternyata masjid itu memang tempat persinggahan bagi wisatawan dari Jawa Timur yang hendak berwisata ke Jogjakarta. Pantas saja, bersih dan luas, hehehe. Menyambut matahari pagi, motor kami arahkan ke pusat kota Jogjakarta, arah Malioboro dan Keraton. Sampai di jalan Malioboro yang masih sepi pagi ini, motor kami parkirkan di tepi jalan masuk parkir(karena parkirnya pun masih tutup), dan langsung mencari angkringan.Sarapan pagi kami hari ini adalah Angkringan, khas Jogja walaupun ada dimana-mana, lumayan untuk mengganjal perut di pagi hari. 4000 rupiah sudah cukup kenyang dengan nasi bungkus, sate telur puyuh, dan teh manis hangat. Setelah makan, kami berkeliling ke sekitaran Malioboro, seperti benteng Vredeburg, Keraton Yogyakarta, untuk sekedar berfoto, karena selain masih tutup, kami kebanyakan sudah pernah mengunjunginya. Ada kalanya berwisata ke tempat sepi lebih menarik, serasa punya sendiri hehehe. Dan, setelah makan angkringan, saya memisahkan diri, untuk sementara, karena ingin berkunjung ke rumah nenek alias simbah di Kutoarjo, tunggu kelanjutannya ya🙂

Pagi Hari di bawah flyover Sleman
Pagi Hari di bawah flyover Sleman
empunya lagi pada cari makan dulu :)
empunya lagi pada cari makan dulu🙂
Serbu! Semangat Makan Angkringan
Serbu! Semangat Makan Angkringan
benteng Vredeburg
benteng Vredeburg
Keraton Jogjakarta
Keraton Jogjakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s