Heart of Java Adventure Part 2 – Bromo is Great!


Setelah puas mendinginkan kerongkongan di Bangil, dengan jus buah segar😀, Jam 1 siang kembali berlanjut ke arah Pasuruan (untuk kemudian ke Bromo), jalan yang mulus dan lebar (khas Jawa Timur kah?)  kembali menemani putaran roda sepeda motor. Sempat bertemu bus yang memajang tulisan Surabaya – Ambulu – Jember, membawa ingatan saya kembali ke 10 bulan yang lalu, saat Kuliah Lapang 3 di Jember. Ternyata Pasuruan sudah dekat, 80 kilometer lagi dari Bangil, dan kami terus saja berjalan ke arah Bromo ‘main objective’ perjalanan kali ini. Di Pasrepan, kota kecamatan terakhir yang ada sebelum Bromo, kami beristirahat, merebahkan badan, di masjid yang cukup nyaman, di kejauhan sudah terlihat hijaunya pegunungan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru(TN BTS), tidak sabar rasanya menuju ke sana. Setelah beristirahat, tidak lupa mengisi kembali perbekalan yang sudah mulai menipis, untungnya ada semacam minimarket milik pesantren, kami membeli beberapa botol minuman, beberapa bungkus roti dan biskuit, dan tak lupa minuman bersoda untuk bekal selebrasi nanti.

Image
Yoga, istirahat singkat dari cuaca panas Bangil

Dari Pasrepan, jalan terus menanjak hingga Wonokitri, desa terakhir sebelum masuk kawasan TN BTS. Jalanan yang halus, cuaca yang cerah, pemandangan yang asri, kombinasi sempurna menikmati perjalanan. Di wilayah ini, kebanyakan motor yang digunakan  penduduknya sudah dimodifikasi agar bisa melahap tanjakan yang lumayan curam, kebanyakan tipe Honda GL, dengan ukuran sprocket belakang yang diperbesar. Kami juga menemukan ‘mobil kayu’, yang digunakan warga membawa rumput gajah dari atas bukit ke bawah, tanpa mesin, dan rem yang minimal, dan hebatnya, turunnya sangat cepat.

Jalanan Mulus Pasrepan - Wonokitri
Jalanan Mulus Pasrepan – Wonokitri
Mulus, tapi menanjak pelan-pelan
Mulus, tapi menanjak pelan-pelan
turun Bukit tinggal meluncur
turun Bukit tinggal meluncur

Sampai di Pusat Informasi Wisata di TN BTS yang dikelola paguyuban warga, bertanya-tanya sedikit, ternyata ditawari penginapan. Ternyata mobil pribadi, dilarang masuk ke kawasan TN BTS, mungkin agar penduduk setempat dapat keuntungan dengan menyewakan mobil bergardan ganda miliknya, ada untungnya juga kami membawa sepeda motor. Akhirnya kami memutuskan menyewa penginapan seharga 350.000/malam (dibagi untuk bertujuh, menjadi 50.000 per malam), dengan pertimbangan ingin tidur normal, di kamar, sekaligus istirahat maksimal, sebelum medan berat esok hari. Walaupun sebenarnya bisa saja mencari homestay yang lebih murah, namun tampaknya merepotkan karena harus menyambangi rumah warga satu per satu. Penginapan(seperti villa karena kami menyewa 1 rumah) yang kami singgahi cukup nyaman, ada tempat parkir yang luas, listrik, kompor gas, TV, selimut tebal dan bersih, sampai kulkas(cukup heran, daerah dingin kok ada kulkas), secara keseluruhan cukup bisa menjadi rekomendasi yang bagus untuk penginapan.

Mampir ke Tourist Information Center, menghafalkan peta
Mampir ke Tourist Information Center, menghafalkan peta

 

Membawa roda 2, ternyata tidak dibatasi masuk :D
Membawa roda 2, ternyata tidak dibatasi masuk😀

 

Tertawa Riang, mengingat 3 hari bersama
Tertawa Riang, mengingat 3 hari bersama

Setelah beristirahat cukup di malam hari (setelah sebelumnya cerita dan saling menertawakan berbagai hal di perjalanan), sekitar jam 4 pagi kami bangun, untuk mengejar sunrise Penanjakan yang spektakuler.  Bersiap-siap mengemasi seluruh barang-barang, bergerak menuju ke pos milik TN BTS, kami membayar lebih untuk 7 orang dan 5 motor, padahal di tiket tertulis Rp. 2.500/orang dan Rp. 3.000/motor (dikorupsi atau salah hitung ya?), sayang kami tidak menghitungnya kembali saat menerimanya. Diiringi gerimis di dini hari, terasa semakin dingin dengan elevasi yang terus naik. Sambil terus menarik selongsong gas, menahan dingin, terngiang lagu Nidji di telinga saya

… I wanna love you like a mountain rain,

I wanna love you like a hurricane,

so wild so pure, so strong and crazy for you …

ternyata hujan di pegunungan memang sangat keras, dingin, terbukti. Jeep yang mengangkut wisatawan pun terus berjalan ke atas, sopirnya yang sudah ahli membawanya cukup kencang, padahal motor kami kesusahan mendaki tanjakan di sini. Jam 5 pagi kami sampai di Penanjakan, wisatawan sudah banyak yang berdatangan, sunrise diperkirakan sekira jam 5.30. tak mau ketinggalan tempat terbaik untuk melihat matahari, kami bergegas ke gardu pandang(kurang lebih ketinggian di Penanjakan 2790 meter, jadi suhu udaranya lumayan dingin, ditambah hujan yang telah membasahi telapak tangan). Masih gelap gulita berselimut kabut, tidak tahu dimana akan muncul matahari. Akhirnya, samar-samar terlihat, sinar keemasan matahari pagi menyibak kabut dan awan, memenuhi separuh cakrawala, sangat megah, saya merasa dekat sekali dengan Sang Pencipta, keindahan yang lebih dari impas, daripada perjalanan 2 hari kemarin. Sayang, pertunjukan itu cuma sebentar, sepertinya perlu melihat lagi lain waktu. Sembari menunggu kabut hilang, kami berfoto ria, bersama spanduk yang telah dibuat oleh M. Arief tentunya. Karena kabut yang menutupi Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru tidak kunjung hilang, kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan di Penanjakan dan bergerak menuju Lautan Pasir Bromo. Oh ya, tidak lupa membeli beberapa souvenir untuk orang terkasih (baju, stiker, syal, sarung tangan, dan headcap khas TN BTS ramai diperjualbelikan di sini, bahkan ada yang menjual Edelweiss, yang di Gunung Gede, Jawa Barat dilindungi).

Walaupun jam 4 pagi, sudah ramai lho
Walaupun jam 4 pagi, sudah ramai lho

 

Foto Bersama dulu dong :)
Foto Bersama dulu dong🙂

 

Foto bersama(lagi-lagi)
Foto bersama(lagi-lagi)

 

M. Arief latar belakangnya Gunung Batok(bawah) dan Gunung Semeru tersembunyi kabut
M. Arief latar belakangnya Gunung Batok(bawah) dan Gunung Semeru tersembunyi kabut

Perjalanan dari Penanjakan ke Lautan Pasir terus menurun, di sebelah kanan adalah tebing yang tinggi, di sebelah kiri adalah jurang yang dalam, dan pemandangan gunung Batok dan Bromo di kejauhan dengan lautan pasir sebagai alasnya. Jalanan terus menurun, dan semakin curam beberapa ratus meter sebelum lautan pasir, dibutuhkan konsentrasi dan pengendalian ekstra maksimal untuk melewati turunan yang paling curam yang pernah saya temui saat naik motor.

Berhenti sejenak, menikmati pemandangan
Berhenti sejenak, menikmati pemandangan

Akhirnya, kami sampai juga di lautan pasir Bromo, perasaan bangga dan senang ketika akhirnya tujuan besar tercapai. Ciptaan Tuhan yang satu ini, Gunung Batok, Gunung Bromo, lautan pasirnya, terasa megah, ditambah kesunyiannya, saya merasakan sangat dekat dengan alam. Tak menyia-nyiakan waktu, kami kembali berfoto ria, hampir setengah jam kami berhenti di situ, menikmati hembusan angin dan gunung di sekitarnya. Segera beranjak menuju ke Kawah Gunung Bromo, melewati lautan pasir tentunya. Saat melewati lautan pasir harus berhati-hati, karena ada pasir yang tidak padat, motor bisa tergelincir atau terjebak dalam pasir, sebaiknya menggunakan jalur yang biasa dilewati mobil jeep.

IMG_3850
IMG_4000
IMG_4021
IMG_4016

Sekitar jam 8.30 kami sampai di Pura Luhur Poten yang ada di depan Gunung Bromo, biasanya dipakai untuk upacara Kasodo setiap tahun sekali. Sebelum memasuki kawasan Gunung Bromo, terdapat semacam patok dari semen yang melingkungi kawasan Bromo, yang menurut penduduk sekitar merupakan radius aman dari bahaya radiasi Bromo, jika naik mobil hanya sampai patok saja, untuk mencapai Bromo harus berjalan kaki lagi. Nah, bagi pesepeda motor, ada parkir motor yang lebih dekat tangga untuk mendaki dengan tarif 3000 rupiah. Setelah parkir, kami langsung menuju ke puncak Bromo, untuk melihat kawahnya yang aktif. Punggungan berupa pasir, menggoda kami untuk mencoba jalan yang tidak biasa, mencoba punggungan lain, walaupun harus terseok-seok di pasir, cukup menyenangkan, sayang bau kotoran kuda di jalur yang dilewati orang untuk naik, cukup merusak suasana. Sampai di atas, ternyata kawahnya mengebulkan asap dengan bau belerang yang menyengat, lebih menyengat dari Kawah Ratu, di Tangkuban Parahu, atau Kawah Anjing di Parakan Salak yang pernah saya kunjungi. Dari atas sini, terlihat lautan pasir yang luas, motor yang saya parkirkan di bawah pun terlihat sangat kecil, mungkin dapat terbayang seberapa dahsyatnya letusan dari kawah ini, yang dulunya merupakan gunung Tengger dengan ketinggian lebih dari 4000 meter. Puas di gunung Bromo, kami turun, dan baru sadar, ternyata kami belum sarapan sedari pagi, untung ada penjual bakso yang berjualan di tengah lautan pasir, langsung saja dipesankan oleh Wido, yang rela bayarin semua bakso yang kita makan. Oh ya, di Bromo, kami bertemu dengan Ilham, seorang wisatawan, asal Jakarta juga, yang mengalami masalah dengan motor pinjamannya, dengan peralatan seadanya kami mencoba menolong, namun karena yang rusak kabel gas, maka terlalu susah untuk diperbaiki, akhirnya kami menemani hingga desa Tumpang. Sebenarnya simbiosis mutuaisme juga, sebagai fotografer saat di Bukit Teletubbies – ya memang begitu penduduk sekitar menyebutnya, sebuah bukit dengan tutupan vegetasi yang rapat, mulai dari tanaman perdu hingga tanaman keras, namun didominasi tanaman perdu, jauh berbeda dengan lautan pasir Bromo yang sangat jarang vegetasinya(akibat pengaruh letusan kawah kah?).

Perjalanan kami lanjutkan ke arah Tumpang, sebelumnya kami sempat mampir di rumah penduduk lokal, seorang suku Tengger, tempat Ilham menitipkan motornya. Disana kami diajak menikmati makanan, lumayan lah makan gratis kali ini. Sempat bercerita tentang kehidupan suku Tengger, yang kemana-mana selalu memakai sarung, juga tentang Semeru, yang hanya kami lihat sekilas kali ini. Setelah itu, jalanan terus menurun, keluar dari TN BTS, masuk ke daerah Kabupaten Malang, dan, karena melihat banyaknya tanaman apel yang sedang berbuah di pinggir jalan, dan ada yang berjualan pula di depan rumahnya, langsung saja kami tukar sekantong apel malang dengan Rp. 5000. Duh, nikmatnya apel Malang yang manis-asam segar masih terbayang. Perjalanan berlanjut ke arah kota Malang, di perbatasan, kami berpisah dengan Ilham, yang kebetulan memang menginap di Malang. Di kota Malang, kami sempat menghampiri bengkel, untuk sekedar mengecek motor Yoga yang mesinnya semakin berisik, dan motor Miqdad yingin mengganti oli, sayapun mencari-cari bohlam lampu depan untuk motor saya, sempat terlibat percakapan dengan mekaniknya, yang ternyata hafal betul plat nomor kami yang luar kota, ‘F’ dari Bogor, ‘B’ tentunya dari DKI Jakarta. Sempat bimbang untuk memperbaiki motor Yoga di Malang atau Kediri, karena masalah penginapan. Akhirnya diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke arah Pare(sebuah kota Kecamatan di Kabupaten Kediri yang terkenal sebagai “Kampung Inggris”), dengan pertimbangan jarak yang tidak terlalu jauh, namun harga penginapan yang lebih murah. Perjalanan itu diiringi hujan sangat deras mulai dari Pujon hingga Pare, membuat perjalanan menjadi  lama, karena mengendarai motor saat hujan butuh pengendalian lebih.

lanjut ke Pare via Malang - Batu - Pujon
lanjut ke Pare via Malang – Batu – Pujon

Sampai di Pare, kami menginap di sebuah asrama, khusus untuk orang-orang yang les bahasa Inggris, kebetulan Ibni pernah beberapa bulan tinggal di sana, sangat murah, Rp. 10.000 per orang per malam. Kami beristirahat penuh di sana sambil menunggu motor Yoga diperbaiki. Di sini banyak sekali tempat les bahasa Inggris, sebuah kota kecamatan yang cukup ramai dengan pendatang dari luar kota. Oh ya, harga makanan disini juga sangat-sangat murah, 3000 rupiah sudah bisa makan kenyang dengan sayur, 5000 rupiah sudah bisa makan enak dengan daging ayam, sesuatu yang belum saya temui di Jakarta.

ada apa lagi setelah Pare? ditunggu ya bro

Satu tanggapan untuk “Heart of Java Adventure Part 2 – Bromo is Great!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s