Heart of Java Adventure Part 1 – The Road Nomads


I love the feeling of the fresh air on my face and the wind blowing through my hair” – Evil Knievel –

Liburan semester telah tiba, maka tiba pula waktunya buat menikmati liburan. Liburan kali ini telah direncanakan sejak jauh hari, jadi persiapan yang dilakukan pun tidak main-main. Fisik, Kendaraan, hingga keuangan telah disiapkan semua. Jumat, 11 Januari 2013, kami bersepakat untuk berkumpul di Pom Bensin Kelapa Dua, untuk memulai perjalanan menjelajah pulau Jawa.

Oh ya, kali ini perjalanan diikuti oleh tujuh orang, yaitu saya, Wido, Miqdad, Pras, Ibni, M. Arief, dan Yoga. Semua berkumpul tepat pukul 4 sore, perjalanan dimulai dengan doa dan harapan bertemu cuaca dan jalanan yang baik, mengingat bulan Januari adalah musim hujan, saat kami berangkat pun mendung sudah menggantung di langit.

Image
Setu, Bekasi, perjalanan baru dimulai, kawan

Etape pertama yang akan kami lalui yaitu Depok, melalui Setu, hingga akhirnya menyusuri jalan nasional di Pantai Utara Jawa sampai ke Kota Semarang. Kami memilih berjalan malam hari untuk menghindari sengatan matahari di pinggiran pantai yang terkenal sangat panas, konsekuensinya harus meliuk-liuk diantara truk dan bus malam yang seakan ‘merajai’ Pantura. Jalan yang dilewati cenderung monoton, lurus, datar, dengan lubang yang mengagetkan, namun motor masih bisa kami pacu 70 – 90 Km/jam, Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Batang terlewati dengan lancar. Sesekali bertemu rombongan pemotor yang menyapa kami, bahkan menawari mampir, sayang, tujuan kami masih jauh.

Selamat Pagi Pantura, Ruas Pekalongan - batang
Selamat Pagi Pantura, Ruas Pekalongan – Batang

Kami sampai di Kaligawe, ujung timur dari Kota Semarang, sekitar jam 7 pagi, saat manusia kota Semarang mulai beraktivitas, ternyata mirip dengan di Jakarta, lalu lintasnya didominasi sepeda motor. Langsung saja memesan makanan, di rumah makan yang baru saja mulai berjualan. Menumpang mandi di rumah makan adalah hal yang pertama kali dilakukan, mengingat perjalanan malam sangat meletihkan, sampai-sampai M. Arief yang membonceng saya sempat tertidur di atas motor. Setelah selesai makan di rumah makan, yang harganya cukup murah (daripada di Depok tentunya, Nasi lengkap dengan opor ayam hanya 5000 rupiah saja), kami beranjak ke pom bensin terdekat, mencari pinggiran Musholla untuk merenggangkan punggung. Ternyata udara panas di Semarang membuat istirahat kami kurang nyenyak.

RM Pantes, Kaligawe, backgroundnya ada harga makanan yang murah meriah
RM Pantes, Kaligawe, backgroundnya ada harga makanan yang murah meriah

Jam 9 pagi, kami memulai perjalanan kembali, ke arah Demak, setelah memutuskan untuk mengubah rencana perjalanan, dari jalur utara  menjadi jalur tengah (melewati Ngawi, Jombang, terus ke timur hingga Sidoarjo). Berubahnya rencana ini, akibat tidak tahan dengan panasnya udara pantai di siang hari dan juga menghindari macet di Surabaya (salah satu kota terbesar di Indonesia, prediksi kami akan macet di malam Minggu, sama seperti kota besar lainnya). Jam 12 siang kami beristirahat di Godong, Purwodadi, sambil memperbaiki sepeda motor Miqdad dan Yoga yang bermasalah pada rem belakangnya. Perjalanan dilanjutkan dengan perut yang terisi penuh pecel yang rasanya pedas sekali (padahal orang Jawa terkenal suka yang manis-manis lho), setelag Bledug kuwu, Grobogan terus melewati arah utara ke selatan pegunungan Kendeng, berupa kumpulan gunung kapur. Batuan kapur itu menghasilkan jalanan yang rusak parah, aspalnya memang masih melapisi jalanan, namun permukaannya tidak rata sama sekali, bergelombang di setiap bagiannya, sehingga percuma saja menghindarinya. Yang menarik di sini adalah banyaknya pohon jati, yang tumbuh subur, dan penduduknya pun membangun rumah joglo (rumah tradisional Jawa Tengah) yang seluruh bagiannya berupa kayu jati, kecuali atapnya tentu. Jalan bergelombang akhirnya berakhir, setelah kami memasuki jalur utama, bagian dari ruas Solo – Ngawi – Jombang. Sempat berfoto sejenak di Mantingan, Tugu Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan melanjutkan perjalanan ke alun-alun kota Ngawi. Jam 6 sore, kami mulai mencari panganan khas kota di sekitar alun-alun, namun yang terlihat hanya makanan ‘biasa saja’, mi ayam, bakso, angkringan. seharusnya alun-alun yang merupakan ciri suatu kota, seharusnya mampu juga menyediakan makanan khas, sehingga identitas kota tersebut jelas, tidak sama dengan kota lainnya. Akhirnya kami makan di rumah makan yang menyajikan makanan yang lumayan murah dan banyak variasi menunya,cukup 4000 rupiah untuk mengenyangkan perut dengan seporsi pecel ayam.

Image
menikmati senja di Ngawi

Setelah selesai makan dan istirahat menikmati alun-alun Ngawi di malam hari, kami berangkat, diiringi hujan yang lumayan deras, kami mengandalkan GPS untuk mencapai Pasuruan. Sepertinya GPS mengkalkulasi jarak terdekat, sehingga medan yang kami lalui sulit, menanjak dan gelap. BRAKK! Ada yang jatuh ternyata, Miqdad, jatuh dan tidak bergerak di jalanan yang gelap gulita, ternyata dia masih ketiduran, dan hilang keseimbangan(padahal di alun-alun Ngawi dia masih segar, dan minum kopi juga). Beruntung, tidak luka apa-apa, hanya motornya saja yang rusak kecil dan bagasinya ‘terbang’ sehingga isinya berhamburan. Tengah malam seperti ini, untung masih ada yang mau menolong, seorang bapak yang ternyata sedang ada di pinggir jalan, ke bengkel terdekat, yang walaupun sudah tutup tetap mau dimintai tolong. Akhirnya perjalanan kami lanjutkan hanya sampai Sukomoro, beberapa kilometer sebelum Nganjuk, jam 12 malam, sebagai titik akhir perjalanan hari ini, beristirahat di teras sebuah masjid. Hari yang melelahkan.

Jombang, istirahat, canda ringan sambil menikmati pentol
Jombang, istirahat, canda ringan sambil menikmati pentol

Tidur 6 jam cukup nyaman, setidaknya membalas kurang tidur kemarin malam. Kami langsung beranjak ke Pasuruan, setelah sebelumnya sarapan di  Mojokerto. Di Mojokerto kami juga sempat mencicipi ‘pentol’, semacam ‘cilok’ kalau di Jawa Barat, makanan kecil, tepung tapioka yang direbus, lumayan hangat di pagi hari. Kami terus saja riding, stabil di 60-70 km/jam dengan jalanan yang lebar dan mulus, hanya terkendala macet saja di Gempol (akhirnya kami mencari jalan pintas lagi menggunakan GPS, walaupun ragu, setelah hari sebelumnya tersasar). Jam 12, saat matahari terasa sangat panas, kami berisitrahat di Bangil, kota kecil sebelum Pasuruan, kotanya cukup rapi. Menikmati dinginnya jus alpukat, agar badan dan pikiran rileks setelah perjalanan tadi pagi. Di Bangil, saya dan Pras pergi ke bengkel, membeli beberapa suku cadang untuk motor, sayang kendala bahasa menghadang, lampu sein (turn lamp) menjadi ‘riting’ ; (tambahan: motor Yoga yang mengalami kendala pada rantai keteng (camshaft chain), dan bertanya ke bengkel pun, ternyata namanya rantai kampret (dalam bahasa sunda, kampret=kelelawar kecil)) sehingga harus bersusah payah menggunakan bahasa isyarat.
Bromo, sedikit lagi
Bromo, sedikit lagi

Praktis, sudah tiga hari ini kami menjadi pengembara jalanan, nomaden, tidur dan makan tidak jauh-jauh dari hiruk-pikuk jalanan. Tiga hari pula kami merasakan berbagai atmosfir perjalanan, tunggu perjalanan kami di Bromo:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s