Main-Main ke Cimahi (Part 2 – End)


Setelah selesai di Waduk Cirata tadi, kita beranjak menuju tempat makan siang, kita bakal beli Sate Maranggi khas Cibungur. Jalanan berkelok menurun menuju ke arah Purwakarta, elevasi yang semakin menurun membuat suhu udara makin terasa panas. Perjalanan amat lancar dan mulus, khas jalanan luar kota, sampai di kota kecamatan kecil, Plered, sentra genteng yang terkenal itu, bertemu lah kami dengan rombongan kecil kampanye pemilihan Bupati.

Kampanye yang kami kira hanya sekelas “Kecamatan” saja(dilihat dari jumlah orangnya), ternyata kampanye se-Kabupaten, suatu hal yang tidak kami perkirakan sebelumnya. Kampanye yang berupa konvoi berbagai kendaraan bermotor, diikuti anak-anak sampai orang tua, berarakan menuju alun-alun membuat kemacetan yang mengular sepanjang jalan, mirip sekali kampanye tahun 90-an di Jakarta.

Hasilnya, 12 kilometer perjalanan dari Plered ke Kota Purwakarta bak “neraka bocor”, suhu udara yang panas dan suhu mesin yang lebih panas, kemacetan yang mengular sepanjang jalan, truk-truk besar dan mobil yang pasrah menutupi jalan, klakson dan orkes kampanye bersahut-sahutan, sekitar jam 12 kami baru sampai di Purwakarta. Rehat sejenak setelah sempat terpisah dari rombongan, yap, gue dan temen gue, sesame pulsar, terpaksa ‘nyelip’ di tengah kampanye, dan tertinggal rombongan bebekers di depan (susah selap salip kalo pake motor yang lebar nih :p). Perbekalan yang ditaruh di boks pun menghangat, akibat panas yang tadi, jemblong(kue ketan berlapis gula merah yang manisnya kebangetan, khas Jawa Barat nih) pun sampe luntur gula merahnya.

Parkir Langsung Depan Warung :P
Parkir Langsung Depan Warung😛

Terpaksa, rencana pun berubah, kita skip sate khas cibungur tadi, kita langsung beranjak ke Situ Wanayasa via Sukadami. Trek yang tersaji cukup menantang, kembali menanjak menuju ketinggian. Hujan yang tiba-tiba deras mengguyur menyurutkan tarikan gas untuk segera berhenti di Pom Bensin terdekat. Sambil menunggu hujan reda, menyempatkan sejenak sholat. Setelah hujan dirasa reda kami pun segera beranjak ke Situ Wanayasa. Sampai di situ, karena sudah lapar juga, langsung parkir di depan warung makanan, makanan pun dipesan dengan menu khas Sate Maranggi.

Pemanah, Mau Memanah Apa/Siapa?Arjuna kah yang mencari Cinta?
Pemanah, Mau Memanah Apa/Siapa?Arjuna kah yang mencari Cinta?
Situ Wanayasa, Pulau Kecil dengan Latar Gunung Burangrang(tertutup kabut)
Situ Wanayasa, Pulau Kecil dengan Latar Gunung Burangrang(tertutup kabut)
Terawat lo Trotoarnya :D
Terawat lo Trotoarnya😀

Sambil menunggu makanan datang, kami sempatkan berjalan-jalan sejenak di sekitar danau. Situ Wanayasa memiliki semacam “pulau kecil” yang ditumbuhi pohon pinus di tengah-tengahnya, dengan latar Gunung Burangrang. Ditambah suasana saat itu yang sedang rintik-rintik hujan, kesan anggun dan misterius langsung terpancar begitu melihatnya. Situ-nya cukup tertata, terlihat dari adanya fasilitas yang lengkap(parkir, wahana air untuk berkeliling situ, toilet), trotoar yang mulus, dan ada patung pemanah yang terlihat apik di sisinya. Sayang begitu saya melihat ke dasar situ, terlihat banyak tumpukan sampah, walaupun tidak begitu kelihatan, seharusnya dapat diatasi oleh pengelolanya.

Selesai melihat-lihat situ, makanan yang dipesan pun akhirnya datang, kebetulan saya memesan Sate Maranggi, karena penasaran belum pernah mencobanya, buat yang belum pernah coba, Sate Maranggi ya sama kaya sate kambing lainnya, dibakar, cuman yang buat beda, dibumbui sebelum dibakar, jadi menyajikannya cukup memakai sambel kecap, cara masak seperti ini membuat bumbunya meresap ke dalam daging kambing dengan sempurna, terasa manis dan gurih yang lebih dari sate biasa.

Selesai makan siang, kita lanjutkan ke main objective alias tujuan utama jalan-jalan kali ini, Curug Cimahi. Jalur yang dipilih adalah lewat Jalancagak – Ciater – Lembang – Curug Cimahi. Jalur ini dipilih karena memiliki scenic road yang sangat bagus, yaitu berupa pemandangan perkebunan sawit di perbukitan, hamparan kebun teh, hingga hutan pinus di sekitar Tangkubanparahu. Ditambah lagi jalannya sangat halus, menambah keinginan  kami melewati jalan ini. Untunglah, hujan tidak turun begitu deras, sehingga jaket saya masih bisa menghalangi air dari badan saya. Kita terus saja berpacu dalam hujan, melewati setiap tikungan dan jalan lurus dengan percaya diri(percaya diri karena perut kenyang makan di Situ Wanayasa :D).

Great Skies above us :D
Great Skies above us😀
Tancaap!
Tancaap!
somewhere in Jalancagak
somewhere in Jalancagak

Di Pom Bensin daerah Lembang, sambil menunggu teman yang tertinggal akibat mengisi bensin, gue membenarkan posisi plat nomor yang lepas bautnya akibat plat imitasi yang tipis, untung aja ada Bro Pras sama Bro Ibni, yang bawa peralatan lumayan lengkap, thanks brur. Sembari itu, tidak lupa gue membeli beberapa botol minuman bersoda, sebagai ritual kami di curug nanti, tau kan, rasanya minum minuman bersoda itu, csss, bagaikan melepas beban penat selama di perjalanan.
IMG_2743

Setelah urusan plat nomor beres, dan sudah terkumpul semua, langsung lanjut ke Curug Cimahi. Sampai di curug sekitar jam 4 sore, curug sudah sepi dari aktivitas pengunjung, terlihat dari parkiran yang sepi. Ada bagusnya juga datang saat-saat terakhir sebelum tutup, sehingga sudah sepi dan, berasa yang punya curug😀. tanpa menyia-nyiakan waktu langsung ambil pakaian siap basah, ganti sandal, dan bergegas ke bawah. Jalannya cukup lumayan menurun dan jauh juga ke bawah, namun sudah disediakan tangga-tangga yang aman bagi pengunjung, 10 ribu rupiah yang dibayarkan sebagai tiket masuk terasa worthed dengan fasilitas yang disediakan.

Melihat situ ini, yang merupakan situ tertinggi di Bandung, dengan ketinggian mencapai 70 meter, terlihat kecilnya manusia dengan kemegahan alam. Patahan yang sangat besar yang pernah gue liat. Air Ci Mahi bak ditumpahkan, membentuk aliran vertikal yang seperti tirai, menutupi batuan keras di baliknya. Sayang, niat kita mandi-mandi di situ terhalang warna airnya yang coklat, tanda banyaknya sedimen hasil gerusan air hujan di bulan Desember 2012 ini.

Tirai Air
Tirai Air

Patahan di Sekitar Curug
Patahan di Sekitar Curug

Sesi Foto Bersama
Sesi Foto Bersama

Alhasil, kami hanya menikmati lanskapnya saja, dan dilanjutkan memesan makanan instan di warung sekitar air terjun, cukup murah memang untuk ukuran tempat wisata. Sambil bersantai di dekat musholla, menikmati suara deburan air terjun, megahnya patahan disekitarnya, dan tentunya makanan hangat di sore hari😀.

Kita pun kembali ke atas, dan beranjak dari Curug Ci Mahi, kembali ke Depok via Padalarang – Cipatat – Cianjur – Bogor – Depok melewati malam dengan ditemani sorotan lampu. Berkendara malam membutuhkan konsentrasi lebih, sehingga baru sebentar berjalan kami pun beristirahat kembali di Pasar Cipanas, ngopi-ngopi dulu sambil mencicipi bubur ayam khas Cianjur, yang memakai cakwe di dalamnya. Melanjutkan perjalanan ke arah Bogor, di sekitar Puncak Pas terlihat warung-warung yang dijagai oleh wanita-wanita geulis alias cantik,dengar-dengar sih namanya warung ‘Kopi Pangku’ :p, .Akhirnya gue berpisah di Bogor, dan, siapkah untuk perjalanan berikutnya?lanjut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s