wp-1471943936463.jpg

Review Box SHAD SH45 dan HRWR Rack Indonesia

Boks menambah kenyamanan saat perjalanan

Saat memiliki motor tipe sport, keberadaan bagasi tambahan dibutuhkan untuk menyimpan barang-barang seperti helm, tas, jas hujan, hingga toolkit, karena membawanya di punggung dapat melelahkan. Alternatif yang populer adalah memasang box tambahan di bagian belakang, tentunya dengan menambah rak juga untuk mengangkut boksnya.

Setelah menimbang-nimbang kebutuhan dan harga, akhirnya jatuhlah pilihan pada: Shad SH45(Kapasitas 2 Helm Fullface) dengan HRWR Rack

Barang bawaan buat 1 minggu di jalan muat lho

Setelah menggunakan selama beberapa tahun, review saya adalah:

Box Shad SH45(Harga beli:950.000, bulan September 2013 di Kaskus)

Plus:

  • Desain cukup modern
  • Dilengkapi tali pengikat di dalam
  • Sistem penguncian yang mudah dibuka-tutup
  • Mudah didapatkan
  • Harga bersaing dengan entry level Givi, Kappa

Minus:

  • Berembun saat hujan deras
  • Karet di Baseplate rawan lepas
  • Belum dilengkapi Stop Lamp(dapat dibeli terpisah)

    HRWR Rack(Harga beli:350.000 bulan September 2013 di Kaskus)

    Plus:

    • Kokoh, karena dibaut 4 titik dan tersebar
    • Rapi, tidak seperti Monorack yang menggunakan besi pipih, HRWR menggunakan besi tubular..CMIIW
    • Fleksibel(dapat dipasang pada hampir setiap tipe motor dan boks motor)

    Minus:

    • Karet penutup yang mudah lepas
    • Karena mudah lepas, bagian dalam mudah berkarat
    • Dalam jangka waktu pemakaian yang lama, setting rak akan turun dan berpotensi menggores body motor

    Cocok untuk perjalanan jauh

    wp-image-409390698jpg.jpeg

    Jalan-jalan ke Curug Ngebul di Cianjur Selatan, Bersih lho!

    Hutan Bambu di dekat Cibeber

    Ceritanya, hari Senin minggu kemarin ngeliat post di grup Bikepacker Kaskus, tentang Curug yang katanya masih asri dan masih jarang yang datang. Berhubung udah beberapa bulan gak jalan-jalan naik motor, sejak hari Senin itu lah kepikiran buat jalan-jalan:mrgreen:

    Ajak sana-sini gak ada yang bisa(udah pada kerja, beda sama waktu kuliah dulu 😁), karena mendadak juga mungkin ya, akhirnya jalan sendiri, the show must go on dude!

    Oke, langsung ke cerita utamanya ya

    Jam 6 Pagi start dari rumah, mampir ke Pom Bensin buat isi full tank, udah disambut ujan gede aja, untung udah siap-siap pake jas hujan sama sepatu waterproof ✌✌

    Jalurnya lewat Bogor→Ciawi→Puncak→Cianjur→Cibeber→Sukanagara→Curug Ngebul, sampe Cianjur masih normal seperti biasanya, cukup 2 jam udah nyampe di Cianjur.

    Istirahat sebentar buat mampir ke Minimarket, beli makanan sama minuman, berhubung katanya belum ada warung makanan di sekitar Curug.

    Setelah itu melewati aspal yang cenderung halus dari Cianjur hingga Sukanagara, demgan lalu lintas yang lumayan sepi, jadi asik buat cruising di 50-60km/h, dengan kecepatan segitu(plus berhenti beberapa kali buat foto-foto pemandangan), butuh 2 jam untuk sampai ke Sukanagara, kota kecamatan terakhir sebelum Curug.

    Kebun Teh Pasir Nangka

    Menurut GoogleMaps, dari Sukanagara seharusnya cukup 60 menit lagi udah nyampe di Curug, ternyata harus pake nyasar dulu, duh!, nyasar karena saking semangatnya, belokan ke curug kelewatan, dan akhirnya butuh 1,5 jam buat kembali ke jalan yang benar 😅😅😅

    Setelah bertemu jalan yang benar, ternyata medannya sangat menantang, pematang sawah yang lebarnya cuma 40-80 cm, ada yang terjal dan licin karena basah, yah apa mau dikata, namanya daerah pegunungan, dinikmati aja. Oh ya, karena daerahnya bergunung-gunung rumah-rumah penduduknya berkumpul sedikit-sedikit di tempat yang cukup datar, diselingi lahan sawah dan kebun penduduk.

    Pemaang sawah, entah kenapa routing di GoogleMaps mobil bisa masuk

    Setelah nanjak-nanjak: Pemandangan Plato Selatan Jawa Barat

    Setelah lewat jalan selebar 2 motor itu kira-kira selama 90 menit, akhirnya bisa sampai di kampung terakhir sebelum curug, mampir dulu untuk makan mi instan, buat penghangat tubuh setelah kehujanan tadi.

    Langsung lanjut ke air terjun, motor sudah disediakan parkir di dekat pintu masuknya, jadi lebih mudah mencapainya. Dari parkir motor, cukup 10 menit sudah sampai di Puncak Selfie(serius, itu nama yang ngasih pengelola curugnya 😂), sayang karena habis hujan jadi berkabut. Oh ya, sekarang guidenya bocil-bocil anak desa sini, Zaenal dan Dede, disuruh akangnya yang jaga pos masuk.

    Karena namanya puncak selfie, boleh dong selfie dulu

    Setelah di atas, bisa turun ke bagian bawah Curug untuk pemandangan lainnya, Air terjun setinggi 100 meter lebih!(ini kata si Zaenal, kata Akangnya sih 113 meter, gak tau mana yang bener). Berhubung sepanjang hari hujan, jadi pas gue dateng ya cuma diri ini pengunjungnya, berasa tempat wisata pribadi 😜

    100 meter vs 180 cm 😅

    Bersih!

    Ada camping ground-nya juga!

    Kesimpulan atas perjalanan ini, gak sia-sia ngabisin waktu 6 jam, curugnya masih(semoga selalu) bersih, pemandangan di perjalanan yang mengagumkan, sampah yang dibuang pada tempatnya, fasilitas yang masih terus dilengkapi, penduduknya yang ramah dan harganya yang relatif terjangkau, membuat curug ini cocok dikunjungi di akhir minggu.

    Perjalanan pulang memakai rute sebaliknya, sehingga karena tidak ada pemandangan baru, dan tentunya tidak nyasar, perjalanan jadi lebih cepat, cukup 5 jam dari Curug ke Bogor, sampai jam 7 malam sudah menikmati hangatnya kasur rumah. 🏃🏃🏃

    Summary

    • Jarak Total:360 km
    • Bensin: ~70000 Rupiah
    • Tiket Masuk: 7500 Rupiah
    • Parkir: 5000 Rupiah
    • Makan dan Snack: 75500 Rupiah

    See you on next trip!

    Tips Perawatan Sepeda Motor di Musim Hujan

    Di Indonesia, hujan menjadi teman sehari-hari kita yang tinggal di negara tropis. Curah hujan yang tinggi mampu menghilangkan pelumas yang menempel pada bagian-bagian penting motor. Untuk menjaga keawetan bagian-bagian penting itu, kita perlu menjaga pelumasannya.

    Motor di Musim Hujan

    Motor di Musim Hujan di Kota Hujan

    Berikut adalah part yang harus dilumasi/dicek pelumasannya:

    1.Rantai Roda

    Rantai Roda harus selalu di cek pelumasannya, mengingat fungsinya yang vital. Ketika rantai roda kurang pelumasan maka selain datangnya karat pada rantai, gesekan yang terjadi lebih besar sehingga usia pakai rantai berkurang. Perlu diingat dalam melumasi rantai, lumasilah hanya bagian yang bergesekan saja, artinya semprot dari bagian dalam rantai yang bersentuhan dengan gear..
    Dengan konstruksi rantai roda yang terbuka, kita perlu membersihkan dulu kotoran yang menempel di rantai, untuk rantai tanpa O-Ring dapat dicuci dengan larutan penetrant setelah rantai bersih dan kering, untuk rantai dengan O-Ring, gunakan air saja dan hati-hati agar O-ring tidak rusak. Setelah rantai bersih, maka kita dapat melumasi rantai roda.

    2.Steering Cone atau Komstir

    Komstir, walaupun jarang diganti merupakan salah satu bagian yang menyumbang dalam akurasi pengendalian motor. Saat musim hujan, lapisan grease(gemuk) yang melindungi komstir dapat hilang, karenanya kita perlu melumasi komstir. Melumasi komstir dapat dilakukan dengan membuka terlebih dahulu  cover bodi depan(untuk motor bebek dan matik), ataupun langsung disemprotkan pada bagian yang bergesekan untuk motor batangan.

    3.Ball bearing atau Laher Roda/Gir

    Laher roda menjadi menyebalkan ketika sudah rusak, pengendalian menjadi tidak nyaman. Laher Roda perlu unutk dilumasi, karena grease yang ada dapat hilang oleh air hujan yang terus menerus. Menjaga pelumasan laher roda dapat membuat pemakaian lebih lama. Caranya dengan membuka ban dan membuka cover laher, selanjutnya berikan pelumas sesuai kebutuhan.

    Perlu diingat kapan kita melakukan pelumasan, karena seiring dengan hujan yang datang kita perlu melakukan pelumasan lagi. Pelumasan yang baik adalah pelumasan yang mampu menjaga komponen bergerak dengan lancar, karenanya penggunaan oli mesin bekas tidak dianjurkan, karena mengandung banyak partikel halus dari dalam mesin, yang membuat pelumasan tidak maksimal.

    Cibinong – Sukamakmur – Ciawi, Pengalaman Pertama lewat Jalur Puncak 2

    Well, sebenarnya ini bukan jalan-jalan yang direncanakan seperti biasanya. Kali ini perjalanan dilakukan untuk kepentingan skripsi, jadi saya memutuskan untuk pergi sendiri saja. Targetnya adalah untuk mencapai Kecamatan Sukamakmur. Setelah melihat  Peta, jarak paling dekat untuk mencapainya adalah lewat Babakanmadang/Sirkuit Sentul, kemudian terus ke arah timur, ke arah Sukamakmur, untuk kemudian bertemu Jalan Raya Pacet – Puncak.

    Cibinong_Ciawi

    Perjalanan diawali dari rumah ke arah Sirkuit Sentul, kondisi jalannya baik dan halus, begitu memasuki jalan Babakanmadang, jalan becek dan berlubang terlihat menantang untuk dilewati, ditambah cuaca yang hujan rintik-rintik. Herannya, lokasinya berada sangat dekat dengan SICC, sebuah tempat berskala internasional, miris melihatnya.

    Perjalanan dilanjutkan ke arah Air Panas Gunung Pancar, mengikuti petunjuk yang tertera dalam plang, setelah itu, saya tidak mampir, karena diburu waktu. kira-kira 5 km setelahnya berbelok sedikit ke kanan untuk mengambil gambar bukit-bukit di kejauhan yang menarik, untuk kemudian kembali ke jalan yang direncanakan.

    2014-06-15 12.21.102014-06-15 12.20.53Jalan yang saya lintasi semakin tidak karuan kondisinya, mungkin akibat wilayah yang rawan longsor, sehingga jalan cepat rusak tertimbun longsor atau terkena erosi air hujan. Jalan yang ada kebanyakan sudah tidak beraspal, ataupun jika beraspal diselingi retakan-retakan. Setelah 1 jam melewati jalanan yang rusak, saya menemukan jalan yang lebih rusak lagi :mrgreen2014-06-15 12.36.54

    Tulisan "Waspada Bahaya Longsor" saya temukan beberapa kali

    Tulisan “Waspada Bahaya Longsor” saya temukan beberapa kali

    Jalan Aspal?

    Jalan Aspal?

    Masjid yang miring, lihat bagian pilar

    Masjid yang miring, lihat bagian pilar

    Boot dan Celana yang Kotor

    Boot dan Celana yang Kotor

    2014-06-15 13.10.47

    Kecamatan Sukamakmur, Sampai Juga!

    Sekitar 1 jam kemudian, akhirnya saya sampai di Kecamatan Sukamakmur, dengan kondisi jalan yang cukup baik pada 3 kilometer terakhir, saya hanya bisa berharap kondisi jalan dari Sukamakmur hingga Jalan Raya Pacet cukup baik, karena lama-lama pegal juga tangan ini🙂

    Jalan dari Sukamakmur menuju Pacet, Puncak, cukup banyak petunjuknya. dari pertigaan di dekat kecamatan Sukamakmur, Pacet berjarak 35-40 Km ke arah selatan, seharusnya dalam 1 jam saya bisa sampai ke Puncak. Namun jalan halus ternyata hanya beberapa kilometer saja, selanjutnya kembali ke jalan yang rusak, ya rusak seperti Jalur ke Sukamakmur. Namun, sekarang banyak pemandangan yang dapat dilihat, mulai dari Hutan lebat di Taman Nasional, Curug yang cukup banyak(seingat saya ada dua yang ramai yaitu Curug Cibeet dan Cipamingkis), sampai pemandangan Kebun Teh. Karena banyaknya pemandangan indah, tak heran banyak juga orang-orang yang jalan-jalan kesini, saya sempat bertemu beberapa rombongan turing yang melewati jalan yang sama. Saya beru tahu bahwa jalur yang saya lewati bernama Jalan Puncak 2, melihat papan nama warung yang ada di sekitar curug tadi. Ingin rasanya berhenti dan menikmati suasana disana, tetapi berhubung terburu-buru, saya pun mengurungkan niat tersebut.
    Setelah sampai di Jalan Raya Pacet, cukup lancar hingga pertigaan Cipanas/Kota Bunga. Jalan Raya Puncak macet karena diberlakukan satu arah. Macet menemani saya sampai Megamendung, membuat saya harus lebih berhati-hati, karena selain itu disertai hujan deras dan kabut yang mengurangi jarak pandang. Selepas Megamendung jalan cukup lancar, hingga saya aman sampai di rumah😀

     

    Heart of Java Adventure – Final Part

    Setelah sebelumnya berpisah di Jogja, ternyata teman-teman tidak kuat menahan kantuk, malahan tidur dulu, daan tempatnya pun di pinggir sawah, sekitaran ruas Jogja-Wates, mungkin saking lelahnya, tempat di pinggir irigasi itu, terasa nyaman untuk ditiduri, tak peduli siang hari dan jadi perhatian orang yang melintas :p

    Mulai Melipir di Pinggir Sawah

    Mulai Melipir di Pinggir Sawah

    Setelahnya, sebelum saya kembali bertemu di rumah M. Arief, teman-teman menyempatkan diri, mampir ke pantai (maklum, ingin melengkapi destinasi mulai dari gunung sampai pantai :mrgreen). Simpan box dan perlengkapan sebentar di rumah, langsung tancap ke pantai Menganti, Kebumen, medannya yang sulit dan fasilitas wisata yang belum lengkap, menjadikan pesonanya belum terlalu banyak dilihat orang, ini dia foto-fotonya, sayang menjelang gelap, sehingga hanya sedikit kesempatan mengambil foto.

    Jalur Lurus di Gombong - Pantai Ayah

    Jalur Lurus di Gombong – Pantai Ayah

    Suasana di Sekitar Pantai, Kereeen!

    Suasana di Sekitar Pantai, Kereeen!

    PAntainya memang berbentuk tebing, karena merupakan bagian dari Kawasan Karst Gombong, sehingga bentuk pantainya bermacam-macam dan unik. Banyak objek wisata lainnya yang bisa dikunjungi di selatan Kebumen, seperti Goa Petruk, Pantai Petanahan, dan tentunya pantai-pantai yang belum banyak dilihat seperti Pantai Menganti ini.

    Malamnya, sekitar jam 7, saya kembali bergabung dengan teman-teman, setelah melepas rindu ke simbah di Kutoarjo, malam itu kita menginap di rumah M. Arief, baik banget lho keluarganya, sudah diberi tempat untuk tidur, diberi makanan pula😀. Paginya, kami terbangun di desa yang asri, cahaya matahari yang menyusup di antara tanaman perkebunan yang rimbun, indah sekali untuk dinikmati. Setelah sarapan dan pamit, kami siap memulai perjalanan ke Cilacap.

    Desa yang Asri

    Desa yang Asri

    Gombong Cilacap ditempuh lewat jalur alternatif selatan, yang relatif mulus, sehingga perjalanan akan lebih cepat daripada lewat jalur utama. Terjadi sedikit insiden, dimana motor saya tanpa sengaja ‘menyundul’ motor penduduk lokal, yang tiba-tiba berbelok, untunglah hanya luka lecet saja. Selain itu, tanpa sadar ponsel Yoga terjatuh dari kantungnya, sehingga harus putar balik mengambilnya, hehehe :mrgreen. Alhasil, Gombong-Cilacap yang seharusnya ditempuh dalam 2-3 jam saja harus ditempuh selama 4,5 jam. Di Cilacap, seperti biasanya, kami menumpang mandi air panas di Kolam Air Panas Cipari, lumayan untuk menghilangkan penat berkendara di sepeda motor 6 hari berturut-turut. Disini saya pun menyempatkan diri mengganti kampas rem depan Pulsar, untung ada dealernya, hehehe

    Desa Cipari, Cilacap

    Desa Cipari, Cilacap

    Di Cilacap, kami hanya sampai jam 12 malam saja, dengan terpaksa Ibni ditinggalkan karena masih ada yang harus dikerjakan di desanya. Menembus gelapnya malam, kami berpacu dengan waktu, agar tidak terkena kemacetan di Bandung, sehingga harus ada di Padalarang sekitar jam 7 pagi, tengah malam motor terus dipacu, sampai saya tidak tersadar jas hujan yang diikatkan di tas terjatuh, untung Miqdad berbaik hati mengambilnya :mrgreen. Jam 8 pagi, kami sudah sampai di Cianjur, menikmati sarapan bubur cianjur yang terkenal enak, hujan yang menemani sejak jam 5 pagi di Nagreg membuat kami sampai menambah porsi bubur ayam tersebut, hehehehe

    Cilacap - Bogor, Dingiin!

    Cilacap – Bogor, Dingiin!

    Dengan asumsi 2 jam antara cianjur-bogor, seharusnya kami sampai jam 10 siang di Bogor, namun baru jam 10.30 kami sampai di Bogor, karena di Puncak kabut sedang tebal dan ada longsor di dekat Ciloto. Sampai di Bogor, kita berselebrasi, membuat ledakan Cola! Rasanya begitu senang, banyak hal baru yang telah kita lihat, kita rasakan, kita alami di jalanan, semoga pengalaman ini tidak menjadi yang terakhir🙂

    Ekspresi setelah 7 hari di Jalanan

    Ekspresi setelah 7 hari di Jalanan

    Heart of Java Adventure Part 3 – Pulang (ke) Jogja

    Setelah puas mengisi perut dan menginap di Pare, jam 6 sore kami berangkat dari penginapan (setelah sebelumnya mengambil motor Yoga yang turun mesin dalam waktu 12 jam saja). Rute yang kami malam ini adalah Pare – Kediri – Ngawi – Sragen – Surakarta – Jogja.
    Sempat mampir untuk foto-foto sebentar di monumen Simpang Lima Kediri, yang bentuknya mirip sekali dengan Arc de Triomphe, di Paris, Perancis cuma ukurannya yang lebih kecil. Taman yang tertata rapi, dan cahaya lampunya yang benderang mampu memukau mata saya yang haus pemandangan indah ini.

    Arc de Triomphe a la Kediri di malam hari

    Arc de Triomphe a la Kediri di malam hari

    Oh ya, di Kediri ada pabrik rokok yang sangat besar, PT Gudang Garam, nah pusatnya ada di Kediri, terbayang berapa banyak rokok yang diproduksi(dan dikonsumsi tentunya). Rokok, walaupun banyak yang bilang  merugikan kesehatan, nyatanya menjadi sumber penghidupan banyak orang, masalah dilematis di Indonesia

    Selain itu ada jembatan yang panjang sekali, melintasi Kali Brantas, jembatan ini sudah dibangun pada abad ke-18 dan masih berfungsi baik hingga kini, ditambah aksen cahaya lampu di sekitar jembatan, membuatnya terlihat memikat.

    Setelah puas berfoto, perjalanan langsung dilanjutkan ke arah Ngawi via Nganjuk, namun kami sempat tersasar(lebih tepatnya berputar-putar) di sekitar pusat kota Nganjuk, karena hanya mengandalkan membaca GPS(tidak menggunakan routing), dan kebetulan Wido yang membaca, sepertinya sedang tidak konsentrasi😛

    Lanjut, setelah menemukan jalan yang sebenarnya, langsung diarahkan menuju Ngawi, malam hari di Alas Saradan perjalanan kami hanya ditemani truk-truk besar. Aspal yang halus, membuat kami bisa memacu dengan stabil motor-motor kami, termasuk Yoga dengan mesin motor barunya. Sepertinya ritme perjalanan kami sudah serasi, salip menyalip truk menjadi lancar dan mantap.

    Tidak terasa, 4 jam sudah mesin menyala, dan kami masih tetap segar, sehingga rencana istirahat di Ngawi dibatalkan, mungkin ini akibat istirahat kami yang cukup panjang di Pare, hehehe:mrgreen:. dan pada tengah malam, kami telah mencapai Mantingan, wilayah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, kira-kira 150 Km dari titik kami berangkat. Di SPBU dekat gapura perbatasan, kami beristirahat, membuka bekal yang dibawa dari Pare, nasi, ayam goreng, dan masakan sayur cukup mengenyangkan di malam hari.

    Dan, perjalanan dilanjutkan setelah beristirahat sekitar 1 jam, petunjuk jalan yang lengkap memudahkan perjalanan kami ke arah Jogjakarta, walaupun sempat menerka-nerka di sekitar Sragen. Perjalanan malam berlangsung lancar, hanya saja sempat merasakan ganasnya lubang besar di sekitar Lapangan Udara Adisucipto, karena sudah malam dan kurang awas. Sampai di Klaten sekitar jam 1 pagi, kami beristirahat di minimarket 24 jam, merenggangkan badan yang pegal terhempas angin malam.

    Istirahat, tak lupa bercanda ringan

    Istirahat, tak lupa bercanda ringan

    Setelah 1 jam beristirahat, kami beranjak ke arah Jogjakarta(ini salah satu mimpi saya sejak kecil, bisa naik motor ke tempat nenek..hehe), jalan yang lancar membuat perjalanan sekira dua jam saja, kami sudah menyentuh tapal batas Jawa Tengah – Jogjakarta, dan karena ngantuk sudah tidak bisa ditahan, kita memutuskan istirahat di masjid seberang candi Prambanan.
    Masjid ini sepi, bersih, dan luas, cocok untuk pengelana ekonomis yang membutuhkan tempat untuk sekedar meluruskan badan😀. Langsung saja kami menggelar perlengkapan tidur di selasar masjid, setelah sebelumnya meminta izin pada penjaga masjid untuk menumpang tidur. Sarung, Jaket, dan Tas menjadi perlengkapan untuk melawan dinginnya lantai masjid. Pulas kami semua tidur, hingga akhirnya pada jam 4 pagi(baru memulai tiga jam tidur), ada suara perempuan, banyak sekali, serombongan anak SMA masuk masjid, dan langsung melakukan ritual yang sama dengan kami, tidur di lantai. Marif yang tampaknya terganggu, juga saya dan Yoga ikut terbangun. berusaha bergeser tempat tidur, agar tidak terlalu dekat dengan anak-anak SMA itu, maklum mereka perempuan, dan tidurnya sembarangan, dan kami risih juga, nanti bisa-bisa terjadi hal yang diinginkan tidak diinginkan:mrgreen:.

    Setelah melanjutkan tidur, paginya kami baru tahu, bertanya pada salah satu anak SMA, ternyata masjid itu memang tempat persinggahan bagi wisatawan dari Jawa Timur yang hendak berwisata ke Jogjakarta. Pantas saja, bersih dan luas, hehehe. Menyambut matahari pagi, motor kami arahkan ke pusat kota Jogjakarta, arah Malioboro dan Keraton. Sampai di jalan Malioboro yang masih sepi pagi ini, motor kami parkirkan di tepi jalan masuk parkir(karena parkirnya pun masih tutup), dan langsung mencari angkringan.Sarapan pagi kami hari ini adalah Angkringan, khas Jogja walaupun ada dimana-mana, lumayan untuk mengganjal perut di pagi hari. 4000 rupiah sudah cukup kenyang dengan nasi bungkus, sate telur puyuh, dan teh manis hangat. Setelah makan, kami berkeliling ke sekitaran Malioboro, seperti benteng Vredeburg, Keraton Yogyakarta, untuk sekedar berfoto, karena selain masih tutup, kami kebanyakan sudah pernah mengunjunginya. Ada kalanya berwisata ke tempat sepi lebih menarik, serasa punya sendiri hehehe. Dan, setelah makan angkringan, saya memisahkan diri, untuk sementara, karena ingin berkunjung ke rumah nenek alias simbah di Kutoarjo, tunggu kelanjutannya ya🙂

    Pagi Hari di bawah flyover Sleman

    Pagi Hari di bawah flyover Sleman

    empunya lagi pada cari makan dulu :)

    empunya lagi pada cari makan dulu🙂

    Serbu! Semangat Makan Angkringan

    Serbu! Semangat Makan Angkringan

    benteng Vredeburg

    benteng Vredeburg

    Keraton Jogjakarta

    Keraton Jogjakarta

    Heart of Java Adventure Part 2 – Bromo is Great!

    Setelah puas mendinginkan kerongkongan di Bangil, dengan jus buah segar😀, Jam 1 siang kembali berlanjut ke arah Pasuruan (untuk kemudian ke Bromo), jalan yang mulus dan lebar (khas Jawa Timur kah?)  kembali menemani putaran roda sepeda motor. Sempat bertemu bus yang memajang tulisan Surabaya – Ambulu – Jember, membawa ingatan saya kembali ke 10 bulan yang lalu, saat Kuliah Lapang 3 di Jember. Ternyata Pasuruan sudah dekat, 80 kilometer lagi dari Bangil, dan kami terus saja berjalan ke arah Bromo ‘main objective’ perjalanan kali ini. Di Pasrepan, kota kecamatan terakhir yang ada sebelum Bromo, kami beristirahat, merebahkan badan, di masjid yang cukup nyaman, di kejauhan sudah terlihat hijaunya pegunungan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru(TN BTS), tidak sabar rasanya menuju ke sana. Setelah beristirahat, tidak lupa mengisi kembali perbekalan yang sudah mulai menipis, untungnya ada semacam minimarket milik pesantren, kami membeli beberapa botol minuman, beberapa bungkus roti dan biskuit, dan tak lupa minuman bersoda untuk bekal selebrasi nanti.

    Image

    Yoga, istirahat singkat dari cuaca panas Bangil

    Dari Pasrepan, jalan terus menanjak hingga Wonokitri, desa terakhir sebelum masuk kawasan TN BTS. Jalanan yang halus, cuaca yang cerah, pemandangan yang asri, kombinasi sempurna menikmati perjalanan. Di wilayah ini, kebanyakan motor yang digunakan  penduduknya sudah dimodifikasi agar bisa melahap tanjakan yang lumayan curam, kebanyakan tipe Honda GL, dengan ukuran sprocket belakang yang diperbesar. Kami juga menemukan ‘mobil kayu’, yang digunakan warga membawa rumput gajah dari atas bukit ke bawah, tanpa mesin, dan rem yang minimal, dan hebatnya, turunnya sangat cepat.

    Jalanan Mulus Pasrepan - Wonokitri

    Jalanan Mulus Pasrepan – Wonokitri

    Mulus, tapi menanjak pelan-pelan

    Mulus, tapi menanjak pelan-pelan

    turun Bukit tinggal meluncur

    turun Bukit tinggal meluncur

    Sampai di Pusat Informasi Wisata di TN BTS yang dikelola paguyuban warga, bertanya-tanya sedikit, ternyata ditawari penginapan. Ternyata mobil pribadi, dilarang masuk ke kawasan TN BTS, mungkin agar penduduk setempat dapat keuntungan dengan menyewakan mobil bergardan ganda miliknya, ada untungnya juga kami membawa sepeda motor. Akhirnya kami memutuskan menyewa penginapan seharga 350.000/malam (dibagi untuk bertujuh, menjadi 50.000 per malam), dengan pertimbangan ingin tidur normal, di kamar, sekaligus istirahat maksimal, sebelum medan berat esok hari. Walaupun sebenarnya bisa saja mencari homestay yang lebih murah, namun tampaknya merepotkan karena harus menyambangi rumah warga satu per satu. Penginapan(seperti villa karena kami menyewa 1 rumah) yang kami singgahi cukup nyaman, ada tempat parkir yang luas, listrik, kompor gas, TV, selimut tebal dan bersih, sampai kulkas(cukup heran, daerah dingin kok ada kulkas), secara keseluruhan cukup bisa menjadi rekomendasi yang bagus untuk penginapan.

    Mampir ke Tourist Information Center, menghafalkan peta

    Mampir ke Tourist Information Center, menghafalkan peta

     

    Membawa roda 2, ternyata tidak dibatasi masuk :D

    Membawa roda 2, ternyata tidak dibatasi masuk😀

     

    Tertawa Riang, mengingat 3 hari bersama

    Tertawa Riang, mengingat 3 hari bersama

    Setelah beristirahat cukup di malam hari (setelah sebelumnya cerita dan saling menertawakan berbagai hal di perjalanan), sekitar jam 4 pagi kami bangun, untuk mengejar sunrise Penanjakan yang spektakuler.  Bersiap-siap mengemasi seluruh barang-barang, bergerak menuju ke pos milik TN BTS, kami membayar lebih untuk 7 orang dan 5 motor, padahal di tiket tertulis Rp. 2.500/orang dan Rp. 3.000/motor (dikorupsi atau salah hitung ya?), sayang kami tidak menghitungnya kembali saat menerimanya. Diiringi gerimis di dini hari, terasa semakin dingin dengan elevasi yang terus naik. Sambil terus menarik selongsong gas, menahan dingin, terngiang lagu Nidji di telinga saya

    … I wanna love you like a mountain rain,

    I wanna love you like a hurricane,

    so wild so pure, so strong and crazy for you …

    ternyata hujan di pegunungan memang sangat keras, dingin, terbukti. Jeep yang mengangkut wisatawan pun terus berjalan ke atas, sopirnya yang sudah ahli membawanya cukup kencang, padahal motor kami kesusahan mendaki tanjakan di sini. Jam 5 pagi kami sampai di Penanjakan, wisatawan sudah banyak yang berdatangan, sunrise diperkirakan sekira jam 5.30. tak mau ketinggalan tempat terbaik untuk melihat matahari, kami bergegas ke gardu pandang(kurang lebih ketinggian di Penanjakan 2790 meter, jadi suhu udaranya lumayan dingin, ditambah hujan yang telah membasahi telapak tangan). Masih gelap gulita berselimut kabut, tidak tahu dimana akan muncul matahari. Akhirnya, samar-samar terlihat, sinar keemasan matahari pagi menyibak kabut dan awan, memenuhi separuh cakrawala, sangat megah, saya merasa dekat sekali dengan Sang Pencipta, keindahan yang lebih dari impas, daripada perjalanan 2 hari kemarin. Sayang, pertunjukan itu cuma sebentar, sepertinya perlu melihat lagi lain waktu. Sembari menunggu kabut hilang, kami berfoto ria, bersama spanduk yang telah dibuat oleh M. Arief tentunya. Karena kabut yang menutupi Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru tidak kunjung hilang, kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan di Penanjakan dan bergerak menuju Lautan Pasir Bromo. Oh ya, tidak lupa membeli beberapa souvenir untuk orang terkasih (baju, stiker, syal, sarung tangan, dan headcap khas TN BTS ramai diperjualbelikan di sini, bahkan ada yang menjual Edelweiss, yang di Gunung Gede, Jawa Barat dilindungi).

    Walaupun jam 4 pagi, sudah ramai lho

    Walaupun jam 4 pagi, sudah ramai lho

     

    Foto Bersama dulu dong :)

    Foto Bersama dulu dong🙂

     

    Foto bersama(lagi-lagi)

    Foto bersama(lagi-lagi)

     

    M. Arief latar belakangnya Gunung Batok(bawah) dan Gunung Semeru tersembunyi kabut

    M. Arief latar belakangnya Gunung Batok(bawah) dan Gunung Semeru tersembunyi kabut

    Perjalanan dari Penanjakan ke Lautan Pasir terus menurun, di sebelah kanan adalah tebing yang tinggi, di sebelah kiri adalah jurang yang dalam, dan pemandangan gunung Batok dan Bromo di kejauhan dengan lautan pasir sebagai alasnya. Jalanan terus menurun, dan semakin curam beberapa ratus meter sebelum lautan pasir, dibutuhkan konsentrasi dan pengendalian ekstra maksimal untuk melewati turunan yang paling curam yang pernah saya temui saat naik motor.

    Berhenti sejenak, menikmati pemandangan

    Berhenti sejenak, menikmati pemandangan

    Akhirnya, kami sampai juga di lautan pasir Bromo, perasaan bangga dan senang ketika akhirnya tujuan besar tercapai. Ciptaan Tuhan yang satu ini, Gunung Batok, Gunung Bromo, lautan pasirnya, terasa megah, ditambah kesunyiannya, saya merasakan sangat dekat dengan alam. Tak menyia-nyiakan waktu, kami kembali berfoto ria, hampir setengah jam kami berhenti di situ, menikmati hembusan angin dan gunung di sekitarnya. Segera beranjak menuju ke Kawah Gunung Bromo, melewati lautan pasir tentunya. Saat melewati lautan pasir harus berhati-hati, karena ada pasir yang tidak padat, motor bisa tergelincir atau terjebak dalam pasir, sebaiknya menggunakan jalur yang biasa dilewati mobil jeep.

    IMG_3850
    IMG_4000
    IMG_4021
    IMG_4016

    Sekitar jam 8.30 kami sampai di Pura Luhur Poten yang ada di depan Gunung Bromo, biasanya dipakai untuk upacara Kasodo setiap tahun sekali. Sebelum memasuki kawasan Gunung Bromo, terdapat semacam patok dari semen yang melingkungi kawasan Bromo, yang menurut penduduk sekitar merupakan radius aman dari bahaya radiasi Bromo, jika naik mobil hanya sampai patok saja, untuk mencapai Bromo harus berjalan kaki lagi. Nah, bagi pesepeda motor, ada parkir motor yang lebih dekat tangga untuk mendaki dengan tarif 3000 rupiah. Setelah parkir, kami langsung menuju ke puncak Bromo, untuk melihat kawahnya yang aktif. Punggungan berupa pasir, menggoda kami untuk mencoba jalan yang tidak biasa, mencoba punggungan lain, walaupun harus terseok-seok di pasir, cukup menyenangkan, sayang bau kotoran kuda di jalur yang dilewati orang untuk naik, cukup merusak suasana. Sampai di atas, ternyata kawahnya mengebulkan asap dengan bau belerang yang menyengat, lebih menyengat dari Kawah Ratu, di Tangkuban Parahu, atau Kawah Anjing di Parakan Salak yang pernah saya kunjungi. Dari atas sini, terlihat lautan pasir yang luas, motor yang saya parkirkan di bawah pun terlihat sangat kecil, mungkin dapat terbayang seberapa dahsyatnya letusan dari kawah ini, yang dulunya merupakan gunung Tengger dengan ketinggian lebih dari 4000 meter. Puas di gunung Bromo, kami turun, dan baru sadar, ternyata kami belum sarapan sedari pagi, untung ada penjual bakso yang berjualan di tengah lautan pasir, langsung saja dipesankan oleh Wido, yang rela bayarin semua bakso yang kita makan. Oh ya, di Bromo, kami bertemu dengan Ilham, seorang wisatawan, asal Jakarta juga, yang mengalami masalah dengan motor pinjamannya, dengan peralatan seadanya kami mencoba menolong, namun karena yang rusak kabel gas, maka terlalu susah untuk diperbaiki, akhirnya kami menemani hingga desa Tumpang. Sebenarnya simbiosis mutuaisme juga, sebagai fotografer saat di Bukit Teletubbies – ya memang begitu penduduk sekitar menyebutnya, sebuah bukit dengan tutupan vegetasi yang rapat, mulai dari tanaman perdu hingga tanaman keras, namun didominasi tanaman perdu, jauh berbeda dengan lautan pasir Bromo yang sangat jarang vegetasinya(akibat pengaruh letusan kawah kah?).

    Perjalanan kami lanjutkan ke arah Tumpang, sebelumnya kami sempat mampir di rumah penduduk lokal, seorang suku Tengger, tempat Ilham menitipkan motornya. Disana kami diajak menikmati makanan, lumayan lah makan gratis kali ini. Sempat bercerita tentang kehidupan suku Tengger, yang kemana-mana selalu memakai sarung, juga tentang Semeru, yang hanya kami lihat sekilas kali ini. Setelah itu, jalanan terus menurun, keluar dari TN BTS, masuk ke daerah Kabupaten Malang, dan, karena melihat banyaknya tanaman apel yang sedang berbuah di pinggir jalan, dan ada yang berjualan pula di depan rumahnya, langsung saja kami tukar sekantong apel malang dengan Rp. 5000. Duh, nikmatnya apel Malang yang manis-asam segar masih terbayang. Perjalanan berlanjut ke arah kota Malang, di perbatasan, kami berpisah dengan Ilham, yang kebetulan memang menginap di Malang. Di kota Malang, kami sempat menghampiri bengkel, untuk sekedar mengecek motor Yoga yang mesinnya semakin berisik, dan motor Miqdad yingin mengganti oli, sayapun mencari-cari bohlam lampu depan untuk motor saya, sempat terlibat percakapan dengan mekaniknya, yang ternyata hafal betul plat nomor kami yang luar kota, ‘F’ dari Bogor, ‘B’ tentunya dari DKI Jakarta. Sempat bimbang untuk memperbaiki motor Yoga di Malang atau Kediri, karena masalah penginapan. Akhirnya diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke arah Pare(sebuah kota Kecamatan di Kabupaten Kediri yang terkenal sebagai “Kampung Inggris”), dengan pertimbangan jarak yang tidak terlalu jauh, namun harga penginapan yang lebih murah. Perjalanan itu diiringi hujan sangat deras mulai dari Pujon hingga Pare, membuat perjalanan menjadi  lama, karena mengendarai motor saat hujan butuh pengendalian lebih.

    lanjut ke Pare via Malang - Batu - Pujon

    lanjut ke Pare via Malang – Batu – Pujon

    Sampai di Pare, kami menginap di sebuah asrama, khusus untuk orang-orang yang les bahasa Inggris, kebetulan Ibni pernah beberapa bulan tinggal di sana, sangat murah, Rp. 10.000 per orang per malam. Kami beristirahat penuh di sana sambil menunggu motor Yoga diperbaiki. Di sini banyak sekali tempat les bahasa Inggris, sebuah kota kecamatan yang cukup ramai dengan pendatang dari luar kota. Oh ya, harga makanan disini juga sangat-sangat murah, 3000 rupiah sudah bisa makan kenyang dengan sayur, 5000 rupiah sudah bisa makan enak dengan daging ayam, sesuatu yang belum saya temui di Jakarta.

    ada apa lagi setelah Pare? ditunggu ya bro